Cinta Sepasang Perantau

images

Semarang, 23 Juni 2010 pukul 07.00 WIB
Sehari setelah hari kelulusan SMA kami menyiapkan diri untuk menyongsong sebuah awal baru untuk menggapai sebuah mimpi yang tergantung diatas langit nan elok. Pagi itu dimana aku duduk termenung didepan sebuah cermin besar. Ku pandangi wajah cantik yang penuh dengan polesan merona dan mimik wajah yang penuh dengan sejuta kebahagian. Hati kecilku berbisik dalam diam,” Hmmh cantiknya diriku… semoga hari ini awal yang baik”. Setelah lama duduk didepan cermin ditemani dengan perempuan setengah baya yang handal dalam hal rias merias. Ini saatnya aku mengenakan sesetel baju kebaya coklat dan rok batik yang sederhana namun terlihat elegan dan sepasang high heels berwarna golden bright.
Dengan balutan kebaya coklat, aku melangkah dengan penuh percaya diri kedalam gedung pertemuan sekolah. Di tengah perjalanan, sebuah pujian terlontar dari mulut seorang adik kelasku, “ Kak.. Kamu terlihat cantik dengan kebaya itu.. boleh ga aku foto dengan kaka buat kenang-kenangan?”
” Thanks ya de kamu juga cantik… boleh bangetlah dek,” jawabku dengan penuh rasa haru.
Aku segera melangkah dan mencari sebuah kursi kosong untuk aku singgahi. Tak lama kemudian acara wisuda pun segera dimulai dengan pembukaan acara yang sangat sakral dengan adat jawa. Entah apa yang ku rasa hari ini aku sangat bahagia sekali. Tak terasa waktu sangat cemburu dengan kebahagiaanku hari ini sehingga bertemulah dengan penghujung acara yang diakhiri dengan perpisahan. Disudut panggung aku melihat seorang pria yang telah menjadi bagian dari hidupku saat ini, dia tersenyum dan memanggilku dengan nada yang sangat manja,” Rinda.. I am here.” Aku segera menghampirinya. Kami saling berjabat tangan dan saling memberikan ucapan selamat atas kelulusan kami. Tak lama bunda memanggil dari kejauhan menyuruh aku dan Dani untuk berfoto bersama. Dengan jas berwarna hitam Dani terlihat bak seorang pemuda gagah yang tampan. Orang-orang mulai pergi dan meninggalkan tempat duduk mereka, aku dan Dani mengukir sebuah janji yaitu kami berjanji akan bertemu dan berfoto bersama lagi diwisuda selanjutnya(wisuda perguruan tinggi) sebagai sepasang kekasih dengan senang hati aku tersenyum bahagia.
Jakarta, 10 Juli 2011 pukul 06.30 WIB
Disini aku memulai petualanganku dalam mencari perguruan tinggi negeri di Jakarta. SMAN 66 Jakarta adalah tempat dimana aku bertarung dengan soal-soal SMPTN yang menentukan masa depanku. Pagi itu udara sangat bersahabat dengan sang alam. Aku berdiri diatas sebuah balkon sekolah yang tak berpenghuni, khayalanku mulai melayang-layang dilangit ditemani dengan sebuah harapan yang tergantung tinggi diatas kepalaku. Harapanku pagi itu hanya satu yaitu aku dapat diterima masuk di Universitas Negeri ternama di Jakarta.Tiba-tiba suara handphone berdering menggagetkanku dari lamunan yang berlalu lalang dipikiranku. Sebuah pesan masuk yang berisi sebuah pesan penuh arti hinggap dihandphoneku….
To: Rinda
From: Dani
Dear do the best for your test… I believe we can pass it! I love you so much
Sebuah pesan yang menggetarkan semangat dalam dada dan menumbuhkan sebuah energi positif dalam jiwa. Aku segera membalas pesan dari Dani yang sedang mengikuti test SMPTN ditempat yang berbeda.
To: Dani
From: Rinda
Of course we can pass it.. Fight for our test! I love you so much too
Bel tanda masuk ruang kelas sudah berbunyi. Semua peserta test memasuki ruang yang sudah ditentukan oleh panitia. “Saatnya pertarungan dimulai…. Bismillah,” bisikku dalam hati.
Tak terasa sudah tiga bulan lebih aku dan Dani tak pernah saling bertatap wajah dan bercakap-cakap bersama karena jarak dan waktu yang memisahkan kita. Sore itu rindu semakin mendarah daging dalam raga, aku menumpahkan seluruh kerinduanku lewat percakapan aku dan Dani via telepon tak kusadari air mataku jatuh bercucuran membasahi pipi, aku tak bisa membendung perasaan rindu ini. Sampai munculah sebuah kesepakatan yang melegakan hati yaitu Dani mengajakku bertemu untuk pertama kalinya ditempat perantauan kita.
Pagi ini terlihat sangat indah dan menawan, suasana hatiku yang berbunga-bunga tampaknya bersahabat dengan pagi yang cerah. Aku segera bersiap-siap untuk pergi menemui Dani di salah satu mall ternama di Jakarta Selatan. Ini pertama kalinya kami bertemu ditempat perantauan kami. Meskipun Dani tak tahu persis dimana letak Mall yang aku ajukan untuk tempat pertemuan kami. Langkahku semakin melebar setelah menaiki jembatan penyebrangan karena sebuah Mall yang berdesign modern sudah tampak dipelupuk mata. Aku segera menuju kesebuah toko buku yang berada didalam Mall tersebut dan membaca-baca sebuah novel karangan Andrea Hirata menunggu kedatangan sang belahan jiwa yang akan datang. Meski lamaku menunggu hati ini tetap bersabar untuk menunggu kedatangan sosokmu yang ku dambakan. Hingga pukul 09.00 WIB Dani mengabarkan dalam sebuah pesan singkat…
To: Rinda
From: Dani
Rin… coba tengok kebelakang!
Aku segera memalingkan wajahku kearah Jam 12. Seorang lelaki muda dengan kemeja kotak-kotak dan celana chino coklat dengan perawakan tubuh minimalis tersenyum hangat menyapaku. Aku segera membalas senyuman yang dia tawarkan padaku.
“Rinda.. Kau terlihat cantik dengan balutan jilbabmu. Apa kabar? Lama tak jumpa,” seuntai kata yang menusuk sanubari terlontar dari mulut seorang laki-laki yang ku cinta.
“Aku baik Dani.. I miss you so much.. Kamu makin manis aja kaya gula jawa,” Jawabku dengan mata berkaca-kaca.
Danipun tertawa karena celotehan polosku.
“ Mau kemana kita tuan putri?” Tanya Dani dengan sedikit candaan hangat yang memecahkan kerinduan dalam hati.
“Terserah kamu aja Dan.. Tapi aku laper loh dari tadi nungguin kamu hehe.” Jawabku sumringah.
“Gimana kalau kita makan disitu aja?,” sambil menunjuk ke arah restaurant Korea.
Aku segera menganggukan kepala dan memperlihatkan senyuman extra manis untuk Dani.
Kami berdua segera memasuki restaurant Korea tersebut, seorang pelayan menyapa kami dengan bahasa korea. Kami berdua pun tersenyum kepadanya. Tak ambil pusing kami segera duduk di sebuah meja yang memiliki dua pasang bangku.
“Kamu mau pesen apa Rinda?” Tanya Dani menyodorkan buku menu.
“Aku pesen Ramen aja Dan… Udah lama gak pernah makan ramen soalnya di Semarang jarang yang jual hehe.”
“Ok.. Kalo aku pesen paket box ini aja deh.”
Sambil menunggu pesanan makanan datang aku dan Dani bercakap-cakap tentang pengalaman kami selama dikota perantauan.
“Dan ga nyangka kita bisa nge Date lagi dikota orang.. Semoga kita bisa terus sama-sama disini.” Sebuah harapan ku untuk Dani.
Danipun tersenyum dan menjawab,”I’ll be yours forever, I promise.”
“Oh..God it is the sweetest promise that I’ve ever heard from you.” Hatiku tiba-tiba berbicara.
Waktu seolah cemburu dengan kemesraan diantara kita. Tak terasa ini saatnya aku dan Dani untuk mengakhiri pertemuan kita dihari ini.
“Ayo Rinda udah sore kita pulang! Soalnya aku juga belom tau jalannya takut nyasar entar kemaleman.” Ajak Dani.
“ Iya Dan…. Ayo!!”
Kami segera meninggalkan tempat itu dan segera menuju ke tempat parkiran. Tiba-tiba wajah Dani berubah menjadi panik seketika.
“ Kenapa Dan? Ada yang salah?” Tanyaku.
“ Hmmmmhh…. ini Rin karcis parkiran ilang,” jawab Dani sambil membongkar seluruh isi tas.
“Tenang dulu.. Coba kamu inget-inget,” aku mencoba menenangkannya sambil membantu mencari karcis yang ilang.
Tanpa pikir panjang aku dan Dani segera mencari keseluruh sudut parkiran, tetapi kami tidak menemukannya. Kami memutuskan untuk segera melapor ke satpam Mall. Setelah menghadapi beberapa proses yang sangat panjang dan menegangkan akhirnya aku dan Dani dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
Langit sore mulai tersipu malu bersembunyi dibawah awan hitam, Dani segera mengantarku kerumah dengan motor hitam kesayangannya sejak SMA. Di tengah perjalanan aku merasa kebingungan karena ternyata jalan yang dilalui Dani menuju rumahku tidak sesuai dengan jalur yang biasa aku lewati.
“Loh Dan kenapa ini jalan isinya mobil semua ya? Motornya pada kemana?” tanyaku dengan penuh kebingungan.
“Rin gimana sih kamu nunjukin jalannya… bisa nyasar gini! Ga ada puteran lagi disekitar sini,” kata Dani dengan muka penuh kekhawatiran.
Lampu merah memberhentikan langkah kami untuk menelusuri jalan di kota yang sangat luas ini. Tiba-tiba suara klakson taxi dan teguran supir taxi dibelakang menyadarkan aku dan Dani bahwa kita telah salah mengambil jalur, pantas saja tak ada satu motor pun yang berani melewati jalur ini. Aku tersentak kaget ketika melihat polisi didepan lampu lalu lintas tak jauh dari tempat kami berpijak. Kami berdua panik hampir saja menerima surat tilangan dari si penghuni lalu lintas. Meski sempat terkena omelan dari seorang supir taxi dibelakang kami karena Dani memutuskan untuk berputar arah dan melawan arus lalu lintas. Untung saja tak jauh dari bibir jalan ada sebuah belokan untuk berputar arah. Akhirnya kami berdua sampai rumah dengan selamat meski sempat berhadapan dengan beberapa masalah yang bertubi-tubi. Sore ini adalah perjalanan yang paling melelahkan tapi rasa lelah itu lenyap seketika saat Dani membisikan sebuah kata manis ditelingaku.
“Rin.. I will always love you till the end of my life.” Sambil menatap kedua mataku.
Pagi itu suara jam weaker menganggetkanku dari sebuah mimpi yang panjang. Saat terbangun dari tidur lelapku, aku tersadar bahwa itu hanyalah serpihan dari cerita masa lalu yang aku lewati bersama Dani. Hal konyol, mengharukan, menyedihkan dan membahagiakan ternyata semua lenyap ditelan oleh waktu. Suara samar bunda mulai menggema di telinga,” Rin bangun sayang! Hari ini kan kamu diwisuda cepat mandi dan dandan yang cantik.”
“Oke bunda.. Ini Rinda mau siap-siap kok,” jawabku dari balik pintu kamar.
“Dan hari ini kita wisuda loh… masihkah kau menginggat janji kita 5 tahun lalu?” tangisku dalam hati.
Ujung dari sebuah penantianku akhirnya tiba, hari ini aku diwisuda ya…. aku diwisuda di Universitas Negeri ternama di Jakarta dengan gelar kumlaud sungguh pencampaian yang sangat luar biasa. Bulu kudukku merinding seketika ketika seorang pria hebat dengan serentet gelar yang beliau dapatkan memindahkan tali diatas togaku. Kedua orang tuaku terlihat tersenyum bangga dengan sedikit cucuran air mata haru dari kejauhan.
Aku segera berlari menghampiri kedua orang tuaku dan merangkul mereka dengan dekapan yang sangat erat,” Bunda, ayah ini buat kalian.” Kataku sambil tersenyum haru.
Satu pesan untuk Dani….
“Dan… walaupun kau tak akan pernah kembali disisiku dan berfoto bersamaku hari ini tapi doaku selalu menyertaimu…. semoga kau bahagia disana dengan wanita yang kau harapkan…satu kata yang harus kau tahu sejak kita berdua mengukir sebuah janji hingga detik ini ….. aku mencintaimu Dani”

Advertisements

Menggenggam Pasir

sandhand1

Oleh Arini Abdillah

Indah memang berbaring diatas pasir
Berlari dan menapakan jejak dan akan hilang diterjang ombak
Mengukir jutaan alfabet diatas kemilaunya
Jutaan karang pun mengumpat karena malu
Kuning kemilauan….
Terhampar luas mewarnai pesisir pantai
Aromanya sangat kurindukan..
Ingin ku genggam dengan kesepuluh jari jemari
Untukku bawa dan ku simpan ditempat teraman
Namun apadaya..
Pasir tak dapat digenggam begitu erat
Semakinku genggam pasir itu…
Semakinn ia berhamburan ditiup angin
Nampaknya aku selama ini salah berasumsi
Kini ku tersadar…….
Pasir memang tak mudah untuk digenggam
Perlahanku mulai mengendurkan genggaman
Satu tujuanku.. Aku ingin pasir itu tetap digenggamanku..
Semakin kukendurkan angin membawanya terbang mengudara
Tinggi… Memedihkan mata..
Sampai pada akhirnya aku tak dapat melihat pasir yg tersisa..
Kehilangan jejak….
Tanpa tahu kemana sang pasir hilang
Apakah gumpalan putih diatas telah menelannya?
Dan hanya menyisakan satu butiran saja disela jemari…
Meski terlihat samar ..
Namun kilauannya tetap menenggelamkan sanubari…

November Cupcakes

cupcake-hi
Oleh Arini Abdillah
Bersama cupcakes dan mimpi, aku bisa mewujudkan sebuah cita-citaku menjadi seorang pengusaha yang sukses dan berprestasi. Berawal dari enam tahun yang lalu dimulai di bulan November. Aku adalah seorang mahasiswi yang sangat mencintai cupcakes. Dikala suka dan duka cupcakes selalu menjadi sahabat terbaik yang menemaniku. Kadang hiasan dan toping yang indah diatas sebuah cupcakes menggambarkan suasana hatiku.
Ku jalani segala rutinitas di hari senin dengan penuh semangat, tak lupa sebelum berangkat ke kampus aku menyempatkan mampir ke sebuah toko cupcakes didekat rumah. Para pelayan toko cupcakes sudah tak asing lagi dengan wajahku yang setiap hari mampir ke toko itu. Tanpa berkata sepatah katapun dua buah cupcakes dengan design yang menggambarkan suasana hatiku sudah didepan mata.
“Selamat pagi mba Aries… ini cupcakes pesanannya seperti biasa ya.” Sapa pelayan toko cupcakes dengan senyuman extra ramah.
“Pagi juga mba.. iya terimakasih.. besok cupcakesnya dengan toping cokelat blueberry ya mba.”
“Ok. Siap mba Aries.”
Sekotak cupcakes sudah berada didalam pelukanku sekarang. Dan saatnya aku menuju ke kampus untuk menunaikan kewajibanku sebagai mahasiswa.Dengan motor scoopy andalan yang di design dengan perpaduan warna pastel, ku letakan kotak cupcakesku disela-sela jok. Langit tampak mempesona dengan warna biru muda, matahari tidak begitu terik menghangatkan tubuh mungilku, dan tampaknya arus lalu lintas dihari senin ini tidak terlalu padat. Rasanya hari ini begitu sempurna untukku lewati.
Setengah jam perjalanan menuju kekampus, aku segera menuju sebuah ruangan di lantai 2. Ku telusuri lorong kampus dengan membawa sekotak cupcakes di pelukanku. Ku daratkan langkah panjangku di ruang A 202, tetapi tiba-tiba suara seorang wanita yang terdengar lirih menghentikan langkahku.
“Aries.. I have a good news today”
“What is that?”
“Pak kharis ga masuk hari ini. Beliau harus pergi ke luar kota karena ada acara dari kampus.”
“Really?”
“Yes, sure.”
“Ok. So where will we go?” tanyaku kepada Evelin.
“Hunting kuliner aja yuk.. ke Depok seru tuh.” Jawab Evelin dengan penuh antusias.
“Yah gue udah punya cupcakes nih.. Sorry kayaknya gue stay disini aja deh sambil nikmatin cupcakes gue hari ini.” Jawabku sambil tersenyum.
“Dasar Mrs. Cupcakes… yaudah gue sama Evan pergi dulu ya.. bye.”
Segeraku buka kotak cupcakes, dan ku nikmatinya sambil mendengarkan sebuah music jazz yang terputar dimusic playlist ponselku. Ku nikmati setiap gigitan cupcakes yang masuk kedalam indera pengecapanku. Ada rasa manis, asin dan asam bercampur menjadi perpaduan citarasa yang sangat istimewa. Ya itu adalah alasan mengapa seorang Aries Sukmawardani sangat mencintai cupcakes. Tiba-tiba terlintas didalam benakku untuk mencari tahu bagaimana cara membuat cupcakes yang enak. Segera ku buka tas laptop dan mencarinya di youtube. Kedua pasang bola mataku tak terlepas dari layar sebuah laptop yang berukuran 14 inch. Langkah demi langkah ku perhatikan dengan seksama tanpa berkedip, ditengah-tengah scene video “How to make delicious cupcakes” sebuah ide muncul dari dalam fikiranku.
“Aha.. Kenapa gue ga bikin usaha cupcakes aja? Tapi apa mungkin? Gue aja gak bisa bikin kue sama sekali.”
Tak seperti hari biasanya, sepulang kampus aku selalu pulang dan membantu bunda untuk menyelesaikan design baju di butik. Kali ini aku berinisiatif untuk mampir ke sebuah toko elektronik tak jauh dari kampus. Rangkaian mixer yang sangat lengkap membuatku ingin sekali membelinya. Tetapi setelahku lihat isi dompetku, uang jajanku tidak cukup untuk membeli mixer itu. Tak jauh dari rak mixer tadi ada sebuah mixer sederhana dengan harga yang cocok dengan kantongku. Segeralah ku ambil dan membayarnya kekasir.
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Otakku berfikir dua kali lebih keras dari biasanya bak sedang ujian akhir sekolah saja. Aku berfikir bagaimana cara membuat resep cupcakes yang beda dari biasanya dan bagaimana cara menarik hati pelanggan dengan dekorasi toko cupcakesku nanti. “Like a thousand stars in the sky… my dream flies away as freedom as the star in the night.. so beautiful. But I must have one star which is shining.”
Morning weekend.. Hari ini aku tak sabar membuat cupcakes pertamaku. Berbagai macam peralatan dan bahan sudah ku siapkan jauh-jauh hari. Wajah bunda terlihat heran dengan kelakuanku pagi ini. Karena tak biasanya sepagi ini aku berdiri di depan kompor. Wajarlah aku jarang sekali mengijakkan kaki didapur karena sibuk dengan segudang aktivitas dikampus, tapi kali ini aku luangkan waktu untuk membuat cupcakes spesial.
“Aries.. tumben nak pagi-pagi udah grasak-grusuk didapur. Mau masak apa?” tanya bunda.
“Ini nda.. aku mau buat cupcakes special.” Jawabku sambil tersenyum.
“Wah .. butuh bantuan bunda ga nih?”
“Gausah bun.. aku bisa sendiri.” Memasang mimik wajah percaya diri.
“Ok. Ditunggu ya cupcakesnya bunda mau coba.” Tampaknya bunda penasaran.
Sambil melihat buku resep cupcakes, aku memilih tema yang cocok untuk cupcakesku pagi ini yaitu “weekend cupcake.” Dengan perpaduan strawberry dan vanilla, cupcakes ini sangat cocok untuk weekend di sabtu ceria.
Langkah pertama yang aku lakukan adalah memanaskan oven, kemudian ku siapkan loyang cupcakes yang sudah tersusun rapih dengan kertas minyak bermotif buah-buahan.
Setelah itu, kocok mentega, gula, vanilla dan strawberry essense dengan mixer baru yang aku beli di toko elektronik kemarin, ku kocok adonan hingga mengembang dan pucat. Lalu masukan telur, kocok lagi hingga rata dan mengembang. Selanjutnya tuang adonan ke dalam loyang cupcakes.
Langkah demi langkah ku selesaikan dengan seksama, ku harap cupcakes buatan pertamaku rasanya jauh lebih enak dari buatan toko cupcakes dekat rumahku. Saatnya cupcakes masuk oven dan sebentar lagi cupcakes buatanku akan segera siap untuk disajikan. Sambil menunggu cupcakesnya terpanggang sempurna. Aku segera mengambil ponselku didalam kamar. Ada sebuah pesan dari Enggar …
From: Enggar
Happy weekend Mrs. Cupcakes… do u wanna hunting cupcakes today?
Aku segera membalas pesan dari Enggar:
To: Enggar
Nope, aku skrg lagi bikin cupcakes nggar.. kamu kesini aja! See u.
Tak berselang lama Enggar membalas pesan dariku:
From: Enggar
Haha.. really? I’ll be there at 03.00 P.M. see u soon cannt wait to try ur cupcakes.
Sangking asiknya chit-chat dengan Enggar, aku lupa bahwa sudah hampir 60 menit cupcakesku terpanggang dalam oven. Aku segera berlari kedapur dan menyelamatkan cupcakesku.
“Aries.. are you Ok? Kenapa bau gosong ya?” tanya bunda dari depan jendela dapur.
“Yes nda.. I am Ok. Tapi cupcakesnya ga oke nda.. gosong.” Pilu rasanya melihat cupcakes buatan pertamaku bewarna hitam suram. Tak seperti cerahnya mentari diatas sana.
Bunda segera menuju kedapur karena mendengar keluhanku.
“Yaampun kok bisa gosong sih? Tapi boleh juga nih dicoba cupcakes buatan kamu, kelihatannya enak ” Ledek bunda
“Ah bunda.. Ngeledek aja ini gosong tau.” Jawanku dengan mimik wajah masam.
Jarum jam menunjukan angka 14.30, itu berarti sebentar lagi Enggar akan datang kerumah. Tapi apa yang akan ku katakan padanya, cupcakesnya gosong semua. Ku coba menghias beberapa cupcakes yang warnanya tidak terlalu kecoklatan dengan cream dan potongan strawberry di atasnya.
“Tak apalah setidaknya aku sudah mencoba.” Ujarku dalam hati
Bel rumah pun berbunyi, aku segera menuju ke ruang tamu dan membukakan pintu untuknya.
“Hello Mrs. Cupcake, how are ya?” sapa Enggar kepadaku.
“Not bad.” Jawabku singkat.
“Loh kok cemberut gitu? Katanya mau buat cupcakes? Mana sini aku mau coba.” Pinta Enggar kepadaku.
“Tapi kamu jangan kaget ya.” Jawabku.
Segera ku ambilkan cupcakes di dapur dengan segelas lemon tea.
“Taraaaa… ini cupcakes buatan chef Aries.” Candaku.
Tampaknya Enggar tak tahu bahwa cupcakes yang ku buat ini setengah gosong, dia tertipu oleh tampilan luarnya saja yang manis dan menarik perhatian.
“Wahh.. keliatannya enak. Boleh aku coba ga nih?” tanya Enggar dengan wajah yang tak sabar untuk melahab cupcakes buatanku.
“Ya silahkan saja! Dan beri komentarnya ya.”
Wajah Enggar berubah seketika ketika mencicipi cupcakes pertamaku, sepertinya ia menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya. Dan dia diam seketika.
“Loh kenapa nggar? Kok diem?”
“Eeemm… ini enak buanget makannya aku speechless.”
“Ah lebay.. ini kan gosong haha.” Jawabku sambil tertawa
“Pantesan pait rasanya.. untung ada kamu jadi rasanya manis.” Gombalan maut keluar dari mulut laki-laki yang tak asing lagi bagiku.
Untuk mengobati kegalauanku Enggar berjanji akan membuatkan cupcakes untukku. Aku pun tersenyum bahagia.
**********************************
Langit sore ini tampaknya agak sedikit tak bersahabat, biasan cahaya petir yang menembus jendela menambah pertanda bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Alunan musik klasik yang terdengar dari music box terasa sangat nyaman aku dibuainya. Untungnya aku segera pulang ke rumah setelah perkuliahan selesai. Ku cari sebuah buku dari deretan koleksi bukuku, dan aku memutuskan untuk membaca buku resep membuat cupcakes. Tiba-tiba handponeku berdering kencang, dan ternyata Enggar menelponku.
v Dia berkata, “Hey Mrs. Cupcake coba lihat kedepan pintu.”
Aku segera berlari kedepan pintu, terlihat kotak kecil berwarna merah muda tergeletak diatas meja kecil didepan rumah didampingi seikat bunga mawar putih segar perpaduaan yang sangat indah. Saatku ambil kotak dan bunga itu, secarik surat kecil jatuh ke atas karpet. Didalamnya terdapat sebuah puisi dan satu buah kata yang membuatku melting.
Dear Mrs. Cupcake
Seperti manisnya tampilan cupcakes di atas jajaran rak kaca
Terpajang rapih bagaikan indahnya permata..
Tak akan ku izinkan yang lain menyentuhnya
Apalagi sampai menyakitinya..
Kan ku jaga jajaran cupcakes itu agar tetap terlihat mempesona..
Cita rasa cupcakes yang menggertarkan indra perasa…
Manis, asam, asin dan terkadang pahit berpadu pada..
Seperti rasa perjalanan hidup kita…
Untukmu si pencinta cupcakes yang setia…
Biarkan aku juga setia menjagamu selamanya..
Hingga maut memisahkan asa…
Ini cupcakes buatan Enggar Prasetia..
Dimakan ya cupcakesnya.. jangan lupa baca doa!
Aku tersipu dalam diam. Nampaknya Enggar terlalu berlebihan memperlakukanku. Padahal aku hanya menganggap dia sebagai sahabat. Dalam prinsip hidupku aku tak mau menjalin hubungan yang dilarang agama. Mungkin Enggar salah paham atas perlakuanku selama ini. Tapi biarkan waktu yang menjawabnya, karena aku juga tak mungkin bisa membohongi perasaan ini bahwa aku mulai mencintainya.
Segera ku telpon Enggar sambil ku nikmati cupcakes buatan Enggar. Meskipun hiasannya tak semanis buatanku bahkan tak menarik sama sekali, tapi rasanya sungguh lebih dari buatan toko cupcakes langgananku.
“Enggar .. Thanks you so much. It is the delicious cupcakes that I’ve ever tasted before. Meskipun tampilannya perlu ditingkatkan lagi haha.” Candaku
“Anytime Mrs. Cupcake.. kapan-kapan kita bikin bisnis cupcakes berdua ya. BRUUUUUKKKKK. Tuuut…tutttt.tuuuttt”
Petir diluar mengagetkanku seperti suara di dalam percakapanku dengan Enggar.
“Nggar…Are you Ok? Nggar..” panggilku dengan nada sedikit tinggi. Tapi apa yang ku dapatkan tak ada jawaban satupun dari Enggar. Ku coba memanggil Enggar sekali lagi tapi hanya nada “tutt..tuuttt..tut” yang aku dengar.
Rasa khawatirku mulai memuncak, air mata dikit sedikit keluar dari dalam kelenjar air mata dan mulai membasahi pipi. Aku segera berlari dan memanggil bunda yang sedang sibuk menggambar pola bajunya.
“Bun.. boleh aku kerumah Enggar sebentar? Perasaanku tidak enak.”
“Tapi diluar hujan deras nak.. berbahaya sekali.” Jawab bunda dengan mimik wajah khawatir
“Bun…” aku menangis seketika dalam pelukan bunda tanpa kata-kata.
Ku coba untuk menghubungi Enggar sekali lagi untuk memastikan dia baik-baik saja. Tapi apa yang ku dapat.. “Nomor yang anda hubungi sedang sibuk.. silakan hubungi beberapa saat lagi.” Emosiku hampir tak terkendali untungnya bunda mengingatkanku untuk mendoakan yang terbaik untuknya. Dengan sedikit perasaan tenang dan fikiran jernih aku segera menghubungi nomer rumah Enggar.
“Assalamualaikum.. Ini Aries bisa berbicara dengan Enggar?”
“Waalaikum salam.. Enggarnya belum pulang neng Aries.. ada pesan?” Jawab seorang wanita diseberang sana. Suaranya agak terdengar tidak jelas karena suara hujan yang begitu deras dan gemuruh petir menghasilkan melody tersendiri. Aku segera menutup telepon karena tak mendapatkan jawaban yang aku inginkan.
Jarum jam sudah menunjukan jam 7 malam, tetapi aku belum mendapatkan kabar darinya. Kulayangkan beribu-ribu pesan untuknya tetapi tidak ada satu balasan pun. Dalam keadaan seperti ini, aku melihat sepotong cupcake buatan Enggar yang tersisa. Aku segera mengambilnya dan memakannya tetapi cupcake terakhir ini rasanya agak sedikit pahit. Mungkin pada saat itu Enggar juga memanggangnya terlalu lama sehingga hampir setengah cupcakenya gosong. Ku coba menenangkan fikiran dan akhirnya akupun tertidur karena kecapean.
Angka jarum jam yang masih samar-samar terlihat menunjukan bahwa sudah jam 00.00 WIB. Aku terbangun ditengah malam dan segera mengecek ponselku. Ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dari rumah Enggar, tapi tak ada pesan ataupun missed call darinya. Aku segera menekan tombol nomer rumahya, tapi tak ada satupun jawaban.
“Mungkin karena sudah larut malam tak ada satupun yang mengangkatnya, atau mungkin Enggar cape lalu tertidur, atau ponsel Enggar dicuri.” Asumsi positif yang keluar dari bibirku mencoba menenangkan hati. Akhirnya ku putuskan untuk beristirahat dan besok pagi aku segera mencari tahu kabarnya.
*************************************************

Pagi itu awan sedikit berkabung, mungkin karena hujan seharian kemarin awan belum sepenuhnya pulih memancarkan cahaya birunya. Seperti weekend ini aku dirundung oleh perasaan pilu karena kabar Enggar yang tak kunjung datang. Aku segera pergi menuju ke rumah Enggar yang jaraknya kurang lebih 300 km dari rumahku.
Rumah Enggar terlihat sepi, tak ada seorangpun yang berlalu lalang dipekarangannya. Ku bunyikan lonceng yang tergantung diatas pagar, nadanya yang berdenting keras membuat sang pehuni rumah keluar dari peraduaanya. Seorang wanita paruh baya keluar menghampiriku.
“Pagi bu… Ada Enggarnya dirumah?” tanyaku dengan sejuta rasa penasaranku.
“Ini neng Aries ya? Neng kemaren saya dapet pesan dari rumah sakit bahwa mas Enggar….” Belum selesai wanita itu berbicara aku segera menyambar.
“Enggar kecelakaan bu?” tanyaku
“Iya neng.. sekarang dia dalam keadaan koma dan dirawat diRs. Fatmawati.” Jawabnya dengan nada sengau.
Tanpa pikir panjang aku segera menuju ke Rs Fatmawati. Sesampainya di sana terlihat seorang pria terbaring lemah diatas kasur dengan keadaan yang sangat kritis. Aku segera menerobos masuk kekamarnya, tetapi dokter tak mengizinkan ku masuk. Aku menangis sejadi-jadinya, tak lama Enggar tersadar dari komanya semalaman. Enggar menyerukan sebuah kata dari bibirnya yang ditutupi oleh alat bantu pernafasan. “Mrs. Cup…cake..”
Dokter segera memanggil keluarganya, dan akupun ikut masuk kedalam ruangan bersama mereka. Wajah Enggar yang tampak tak berdaya berpaling ke arahku, dia tersenyum manis sekali tanpa beban.
“Hey.. Mrs. Cupcake tolong belikan ak..u sebua..aah cupcake yang terenak disini.” Tak tega aku melihat ekspresi wajahnya yang tampak menahan rasa sakit. Aku segera menyambut permintaan Enggar. “Iya Enggar akan ku belikan sekotak cupcake yang paling enak… tunggu aku lima menit saja.” Jawabku… Tak disangka air mataku sudah menetes membasahi pipi. Aku segera berlari dan mencari toko cupcakes di sekitar rumah sakit. Tapi tak ada satupun yang menjualnya. Aku mulai putus asa, perasaan takut akan kehilangan Enggar terbayang-bayang dalam fikiranku.
Sudah lewat dari lima menit, aku belum juga menemukannya. Ketika tubuhku mulai mengeluarkan keringat karena sinar matahari yang tampaknya erotis sekali. Dimenit ketujuh aku menemukan sebuah toko cupcake sederhana berada diseberang sana. Aku segera berlari dan membeli sekotak cupcakes pesanan Enggar. Dengan perasaan gelisah aku pergi meninggalkan toko cupcake itu, biasanya aku selalu tersenyum melihat susunan cupcakes yang terpajang rapih diatas kaca estalase. Tetapi berbeda dengan perasaanku kali ini. Aku tak dapat membendung kesedihanku yang sudah membuncah menjadi gumpalan air mata.
Dimenit kesepuluh aku kembali kerumah sakit dengan sekotak cupcakes dipelukanku. Tapi apa yang ku dapati….
Semua sudah terlambat, Enggar telah meninggalkanku dan sekotak cupcakes didalam genggaman..
“Enggarrr…………. Jangan tinggalin akuu..” Aku berteriak sekencang-kencangnya dan menumpahkan bendungan air mata yang sudah terkumpul sejak tadi malam.
Mulai dari hitungan detik pada kejadian sore itu, aku mulai membenci cupcake. Aku benci dengan panggilan Mrs. Cupcake yang sudah melekat menjadi identitas dalam diriku, aku benci melihat toko cupcake yang berada dibeberapa persimpangan jalan and I hate all the things about cupcake. Tak ada mixer, tak ada bisnis cupcakes, dan tak ada toping yang berwarna-warni menghiasi hariku.
Ternyata semakin aku melupakannya semakin bayangan itu tersugesti di alam bawah sadarku. Dan aku sadar aku tak akan pernah bisa melupakan takdir dalam perjalanan hidupku. Biarkan kenangan tentang Enggar ku simpan dengan rapih di atas rak buku masa laluku. Pasti semua ada hikmahnya “Semoga tenang di alam sana Enggar.. Aku mencintaimu.”
****************************************************************************
Sehari sebelum sidang skripsi, aku menyempatkan untuk mampir ke sebuah perpustakaan di Jakarta selatan. Aku menghabiskan separuh waktuku untuk membaca buku di dalam ruangan yang nyaman dan sunyi. Tak terasa matahari hampir menyembunyikan dirinya, akupun segera meninggalkan ruangan itu. Disepanjang trotoar ku nikmati sore yang indah. Pada jarak pandang 60 cm aku melihat seorang gadis kecil sedang menjual berbagai macam kue, tampaknya gadis itu sangat bersemangat sekali menjajakan dagangannya.
Akupun tertarik untuk membelinya karena gadis itu berjualan dengan kostum gadis berkerudung merah dan membawa keranjang besar ditangan kanannya bak pemeran utama dalam sebuah dongeng.
“Hey dik.. kamu jual kue apa aja? Boleh kaka lihat?” tanyaku.
“Boleh kak.. Ini silahkan dipilih.” Jawabnya dengan mengembangkan senyuman manis dari bibirnya.
Ada berbagai macam kue yang tersusun didalam keranjang besarnya, disudut keranjang aku melihat sepotong cupcakes yang dihiasi dengan gula-gula bewarna-warni seperti pelangi. Rasanya memoar lukaku kambuh lagi, trauma akan masa lalu menghantui ragaku. Semua terasa hambar seketika, akupun terdiam. Sang gadis berkerudung merah nampaknya penasaran atas sikapku kali ini. Tapi saatku lihat sorot matanya yang berbinar, aku merasa dia menyimpan sejuta rahasia.
“Kaa.. kok diam? Kaka suka cupcakesnya ya? Ini aku kasih buat kaka gratis deh.” Suaranya menyadarkanku untuk segera kembali ke masa ini.
“Oh.. tidak usah dek. Ini duitnya kembalinya ambil aja buat kamu.” Jawabku sambil tersenyum.
“Terimakasih kaka.” Sorotan matanya semakin membuatku penasaran untuk bersendagurau dengannya.
“Sama-sama dek. Kamu tinggal disekitar sini?” tanyaku sambil merobek plastik bening yang membungkus cupcakes lezat ini.
“Iya kak. Aku tinggal disekitar sini.” Jawabnya singkat.
Sambil mengunyah sepotong cupcake yang rasanya luar biasa mengoyangkan lidah dan sungguh dari sepanjang hidupku ini cupcake terlezat yang pernah ku makan. Rasanya sempurna…
“Ini cupcakenya kamu yang buat dek? Enak banget loh!”
“Iya kak.. ini resep dari ibu yang diturunkan kepadaku, tapi sayang ibu sudah disurga sana kak.” Matanya berkaca-kaca namun bibir mungilnya tetap tersenyum.
“Maaf dek. Kaka ga bermaksud ingetin kamu.” Sambilku elus kerudung merahnya.
“Gpp kak. Aku sempat trauma untuk membuat cupcakes..”
“Loh kenapa dek?”
“Karena waktu itu ibu meninggal ketika mengantarkan pesanan cupcakes ke pelanggannya.. aku sempat berfikir bahwa gara-gara cupcakes ini ibu jadi meninggal dan aku mulai membencinya.. tapi seiring dengan berjalannya waktu aku berfikir untuk apa aku membencinya semuakan sudah ditakdirkan seperti ini kak.. jadi aku bangkit dan sekarang aku melanjutkan usaha ibu.”
Kata-katanya begitu mengagumkan, meskipun tubuhnya mungil tetapi fikirannya tetap terbuka untuk menerima pahitnya kehidupan.
“Dek bolehkah kaka tahu rumahmu? Kapan-kapan kaka mau belajar membuat cupcakes dirumahmu.. boleh kan?”
“Itu dibelakang perpustakaan kak.. cari aja rumah yang bewarna hijau dan berpagar bambu. Itu rumahku kak.” Jawabnya.
“Oh ok.. ohya nama kamu siapa dek?”
“Namaku Andra kak.. ohya kak sudah sore aku harus segera pulang kerumah.”
“Iya dek.. hati-hati ya dek.”
Kali ini aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari si gadis berkerudung merah itu. Masa lalu adalah takdir, masa depan adalah rahasia dan masa kini adalah perjuangan. Ku telusuri jalan dengan perasaan lega, sepertinya luka lamaku sudah mulai mengering, “Terimakasih Tuhan.”
************************************************************************
Sorot lampu bewarna warni mulai menyorot kearah wajahku, pertanda bahwa acara talkshow disalah satu stasiun TV akan segera dimulai. Tak ku sangka sekarang aku di undang dengan penuh hormat menjadi seorang inspirator atas suksesnya prestasiku. Kali ini aku berencana kuliah melanjutkan S2 ku diluar negeri untuk melanjutkan study ku, aku juga ditawarkan oleh chef terkenal di Amerika untuk belajar memasak. Toko cupcake yang ku bangun dan aku dedikasihkan kepada anak-anak jalanan yang punya semangat untuk meraih masa depannya kini mulai dikenal di masyarakat dalam negeri dan luar negeri. Tak pernahku sangka juga kini aku sedang membuat sebuah cabang toko cupcakes di negeri seberang. Aku mendapat tawaran yang luar biasa mengagumkan dari chef-chef ternama didunia untuk bekerja sama dengan mereka. Inilah toko kecilku yang ku buat bersama si gadis kerudung merah “Andra” dan sekarang mulai menjamur kebeberapa pelosok Negara.
Toko itu bernama……….. November Cupcakes