Ku Pasrahkan Kau Pada Langit Malam

 

wishuponastar

To: Haidar

Kali ini aku pasrah..

Kau pergi saja..

Kau akan lebih bahagia bersamanya ..

Ku layangkan tiga buah kalimat untuknya bersama luka yang menyayat hati. Kali ini aku sadar, cinta ini tak seharusnya tumbuh liar disela-sela malam. Semakin dalam ia tanamkan rindu lewat untaian kata-kata bahagia. Mulanya, Haidar hanya sekedar menyapa. Aku dan dia saling mengingatkan dalam kebaikan.

“Kau tau Aisyah? Hal yang paling aku takutkan adalah mencintaimu disela-sela keistiqamahanku.” Tukasnya singkat lewat pesan suara.

Gusar sekali hatiku saat Haidar menyatakkan perasaannya itu. Indah namun tak semestinya terjadi. Aku dan dia hanya sepasang insan yang sedang dimabukkan oleh segelas racun yang dinamakan cinta. Aku tahu ini tak seharusnya terjadi dan tak pernah terlintas dibenakku bahwa aku pun mulai mencintainya.

“Tahukah Aisyah? Nabi Muhammad SAW sangat mencintai khadijah.. lalu bagaimana dengamu, aku sangat mencintaimu.. maukah kau menjadi seorang khadijah untukku?” Ucap Haidar lewat sebuah pesan singkat.

Seharusnya kalimat itu sangat indah dan meluluhkan hati. Namun, hati kecilku selalu bertanya, “Apakah pria soleh menyatakan cinta lewat pesan singkat atau suara? Bukankah seharusnya ia datang kerumahku membawa kedua orang tuanya?”

“Aisyah.. aku merindukkanmu.. ”

Setiap malam kau kirimkan pesan-pesan indah yang hampir saja merobohkan keistiqamahanku. Hingga suatu malam aku berfikir, “Apakah dia adalah ujian terindah yang dititipkan oleh Allah untuk menguji keimananku?”

Aku memang sudah berjanji pada Nya. Tak akan adalagi yang dapat mencuri hatiku kecuali ia ingin mempersuntingku. Tak akan ku biarkan hatiku berlabuh pada cinta yang tidak halal. Tapi, kedatanganmu disetiap malam hampir saja meruntuhkan janji itu.

“Aisyah.. bisakah engkau menjadi penghias malamku? Bisa kah kau mendengarkan keluh kesahku dan berbagi cerita kepadamu.”

Kedua telingaku hanya bisa mendengar keluhanmu malam itu, semua terdengar indah dan sangat menarik untuk diperbincangkan. Dunianya, ceritanya dan masa lalunya semua bagiku adalah kisah-kisah yang menarik untukku kaji dalam pikiranku.

“Aisyah.. Kau adalah pendengar yang baik.” Puji Haidar.

Aku tak banyak berkata, bagiku kisah hidupnya adalah sebuah teka-teki yang menarik untuk ku dengar. Hingga suatu malam.. aku benar-benar ingin selalu mendengarkan kisah-kisah yang menarik dalam hidupnya. “Apakah ini cinta? Atau saja aku hanya dibuat penasaran olehnya.”

“Malam Aisyah… aku merindukanmu, apakah kita bisa bertemu?” Tanya Haidar.

Aku mengizinkan pertemuan itu terjadi. Pagi itu dipinggir trotoar kau tersenyum menyambut kedatanganku. Kami berdua menelusuri jalan hingga berlabuh ketempat yang kami tuju. Singkat waktu berjalan sangat singkat, aku terbuai oleh bahasa tubuhnya yang sulit sekali ku kaji. Dunianya, raganya, dan tingkahnya semua penuh teka-teki.

“Terimakasih untuk hari ini.. apakah kita bisa bertemu lagi dilain waktu?”

Rencana pertemuan kami selalu gagal. Alam selalu berkehendak lain, waktu memilih untuk berputar kearah yang berlawanan dan jarak selalu menjadi pemisah antara kedua raga yang utuh. “Apakah itu pertanda? Bahwa dia bukan untukku?”

“Taukah Aisyah? Aku mulai mencintaimu disela-sela keistiqamahanku.. Maafkan aku.” Tuturnya.

“Akupun begitu Haidar.. Aku pun mulai mencintaimu.” Perkataan itu semua terucap begitu saja tanpa ada jeda untuk logika berfikir sejenak.

Pagi selalu indah, senja selalu memikat dan malam semakin syahdu ketika aku dan Haidar saling mencintai. Sesekali perasaan gelisah menghantuiku. Hinggaku tak mengerti lagi cara untuk menjauhkan diri darinya.

“Aisyah.. taukah kau kisah Zulaika dan Yusuf?” Tanya Haidar.

“Tentu..Maka dari itu aku tak ingin mengejarmu.” Jawabku.

Hilang.. sebagian malam separuh menghilang. Tanpa pamit, semua lenyap begitu saja. Aku hanya berdoa memendam rindu pada setiap rongga awan hitam. “Secepat inikah? Hanya karenanya kau mengilang?”

Haidar memilih balik kemasa lalunya. Ia hanya menjadikanku sebuah pilihan dalam hidupnya. Aku hanya bisa memendam dan meluapkan kekecewaanku lewat setiap bait-bait syair. Sayangnya ia tak pernah menyadari itu. “Jika kau memang untukku, pasti kau akan kembali bersama langit malam dan jutaan bintang untuk menyembuhkan lukaku.”

“Maafkan aku Aisyah… kali ini aku terlalu sibuk dengan duniaku.. bisakah kita bertemu untuk  menjelaskan ini semua?” Tanya Haidar.

Pertemuan itu tak berlangsung lama, semakin ia menjelaskan perihal kepergiannya semakin membuatku meragu karena pandangan matanya tak lagi sama.

“Apakah kau memang mencintainya? Jika iya.. pergilah.”

“Tidak.. Aku ingin bersamamu Aisyah.”

Jika kesempatan kedua memang ada, akulah orang yang selalu ingin memberimu kesempatan kedua. Harapanku satu, semoga langit malam bisa bergerak menyelaraskan awan-awan hitam bersama bintang-bintang untuk mengindahkan semesta.

Apalah arti sebuah kata, jika kenyataan lebih dapat dipercaya dibanding sebuah kata. Lagi-lagi kau mengindahkannya, kau pampang jelas wajahnya didepanku. Aku tersingkir bagaikan daun kering yang diterpa angin malam. Dingin, hatiku membeku namun pkiranku memanas dilahap amarah, sehingga mencairlah sudah air mata yang tak dapat lagi kubendung.

“Haidar.. benarkah kau mencintainya?”

“Maafkan aku Aisyah.. dia dan kebaikannya terlalu indah sehingga aku tak dapat membendung perasaanku kepadanya.. Maafkan aku sekali lagi.” Jelas Haidar terkesan tanpa dosa.

“Baiklah.. pergilah .. jika kau bahagia bertahanlah.. aku turut bahagia mendengarnya.”

Pergi, ragaku memang pergi tapi rasa ini tak pernah pergi.. sebulan sudah dia menghilang, aku berusaha membangun puing-puing hatiku yang telah rapuh kembali meski tak semudahi membalikan kedua telapak tangan.

Kali ini aku ikhlas, malampun menjadi saksinya.. angin menyapaku membawa udara segar sampai kerongga pernafasanku, bintang mengerlipkan cahayanya kedalam mataku, dan langit selalu menjadi saksi bisu keluh kesahku disetiap malamku.

“Jika memang kau milikku, aku percaya langit malam akan mempersatukan kita kembali,” Ujarku dalam hati.

Malam itu tampak indah, tiba-tiba..

From: Haidar

Aisyah…

Maafkan aku..

Maukah kau membuka lembaran baru bersamaku sekali lagi?

Advertisements

DEUX TRAVELERS PART 1 (GALERI NASIONAL)

 

img-20151128-wa0125        Langit mulai terik, Vetti yang setia menungguku di atas trotoar dekat stasiun gambir mulai merasa jengah karena menunggu terlalu lama.

“Sorry telat vet.. tadi  trans Jakartanya rame buanget.” Tukasku.

“Oke gpp rin.” Jawabnya dengan muka ketus sambil memegang bungkusan minuman plastik es yang hampir habis.

“Aus bu?” Tanyaku meledek.

“Lo pikir aja cong.. hampir setengah jam gue kaya gembel stasiun gambir.”

Aku hanya tertawa dan bergegas pergi meninggalkannya yang sedang kesal karena lama menunggu.

“Sial.. gue malah ditinggalin!”

“Udeh jangan ngambek.. dimana tempatnya?”

“Tuh..” Sambil menunjuk tangga penyebrangan.

“Lah? Diatas jembatan itu? Gila kali yak?” Tanyaku.

“Oneng.. itu disebrang sana.”

Kami berdua lalu menelusuri tangga penyebrangan yang lumayan mengguras  tenaga. Tanpa banyak omong kami berdua segera mencari toilet untuk  mendandani wajah kami yang dibanjiri oleh keringat.

“Tancap dulu cyin..” Kata Vetti sambil mengeluarkan alat tempurnya.

“Yuk.. Gincu harus on ya.”

“Hooh.” Jawabnya singkat sambil menepuk-nepukan bedak diwajahnya.

“Gile.. ngebul amat bedaknya.” Ledekku.

Setelah beberapa menit mematung didepan cermin, kami berdua segera menuju tempat pertama untuk melakukan sesi pemotretan.

“Dimana dulu ini cong?” tanya Vetti kebingungan.

“Noh.. disana aja soalnya kan indoor yang adem dulu kita kan abis tacap.” Jawabku spontan.

Kami berdua segera menuju kedalam gedung besar ber cat putih. Langkah kami pun terhenti ketika seorang lelaki muda memberhentikan kami.

“Mbak.. maaf tasnya dititipin dulu dan isi buku tamunya ya.”

“Oh.. iya mas maaf kita gak tau.” Jawabku malu-malu.

“Lu sih cong main nyelonong aja.” Timpal Vetti menyalahkanku karena terburu-buru.

Setelah mengisi buku tamu dan menitipkan tas, kami segera masuk kedalam gedung itu. Mata kami dimanjakan oleh berbagai macam lukisan artistik yang luar biasa menyilaukan mata. Detail-detail yang sangat jelas menggambarkan guratan emosi para pencipta seni. Vetti asik mengabadikan lukisan-lukisan yang terpampang diatas dinding sedangkan aku sibuk melihat orang-orang yang sedang berfoto di sudut lukisan. Tiba-tiba..

Cekkreekk… Vetti segara membidikku tanpa izin.

“Bilang kalo mau foto.. gue siap-siap dulu. Coba mana liat?”Sambil merebut kamera dalam genggamannya.

“Wah keren juga.. candid nih..” Pujiku.

“Iyalah photographer handal.” Jawabnya dengan sedikit nada meninggi.

Kami pun segera mencari posisi yang pas untuk melakukan sesi pemotretan bak model-model hijabers. Tak sedikit juga anak muda yang datang ke Galeri Nasional atau galnas hanya untuk berfoto layaknya model dalam majalah ternama. Dari yang berbusana mini sampai yang berbusana syari’i, sungguh sangat bervarisi.

“Cong dikursi kayu itu bagus deh kayaknya.. yuk foto disitu.” Ajakku.

“Iya boleh juga.” Vetti pun menyetujui ajakanku.

Ketika sedang asyik berfoto, tiba-tiba dua anak remaja menghapiri kami sambil berkata, “Mbak berdua celebgram ya? Boleh minta foto gak?”

Kami spontan saling beradu mata karena kebingungan,

“Ehhh… iya boleh kok boleh.” Jawabku sambil memasang senyuman manis.

“Disebelah situ kak.” Tunjuknya mengarah kesebuah tangga dengan design modern.

“Oke.”

Kami berdua pun memanfaat moment langka tersebut dan berpose layaknya “Celebgram.” Tiba-tiba dipenghujung pemotretan…

“Kak boleh minta line atau ig-nya?”

“Vet.. gue lupa idnya, lu aja.”

Vetti pun segera memberikan id line dan akun instragamnya. Kedua remaja putri itu pun segera melanjutkan perjalanannya..

“Cong.. Celebram banget apa kita?” Tanyaku sambil tertawa geli.

“Celebgram abal iya… kaka diendorse kaka” Tambahnya dilanjutkan lalu kemudian tertawa.

“Lumayan tau.. gue jadi kepikiran nih siapa tau abis ini kita nge hitz terus dapet endorsan.” Candaku.

“Lebay lu rin..”

“Pulang yuk ah cape nih!”

Kami segera memutuskan untuk pulang karena langit sore sudah mulai berkumpul menutupi mentari. Sambil berjalan perlahan menelusuri ruas-ruas pinggiran trotoar disekitar monas. Vetti sibuk merekam gerak-gerik kendaraan yang berlalu lalang memancarkan lampu-lampu yang berpadu indah menerangi jalan. Sekitar 40 KM kami berjalan, ada sebuah festival makanan yang ramai didatangi warga Jakarta.

“Makan yuk laper!” Ajakku.

“Lu mah emang gentong rin gak bisa laper sedikit.” Ledeknya.

Kami memutuskan untuk berhenti sejanak melepaskan dahaga sambil menyantap makanan khas Jakarta yang ramah dilidah. Diiringi musik betawi yang membuat suasana sore di Jakarta semakin mempesona. Terlihat dua pasang ondel-ondel yang sedang berlenggak lenggok dengan lincahnya.

Kota Djakarta memang terasa indah dikala senja….