Cinta Sepasang Perantau

images
Oleh Arini Abdillah

Semarang, 23 Juni 2012 pukul 07.00 WIB
Sehari setelah hari kelulusan SMA kami menyiapkan diri untuk menyongsong sebuah awal baru untuk menggapai sebuah mimpi yang tergantung diatas langit nan elok. Pagi itu dimana aku duduk termenung didepan sebuah cermin besar. Ku pandangi wajah cantik yang penuh dengan polesan merona dan mimik wajah yang penuh dengan sejuta kebahagian. Hati kecilku berbisik dalam diam,” Hmmh cantiknya diriku… semoga hari ini awal yang baik”. Setelah lama duduk didepan cermin ditemani dengan perempuan setengah baya yang handal dalam hal rias merias. Ini saatnya aku mengenakan sesetel baju kebaya coklat dan rok batik yang sederhana namun terlihat elegan dan sepasang high heels berwarna golden bright.
Dengan balutan kebaya coklat, aku melangkah dengan penuh percaya diri kedalam gedung pertemuan sekolah. Di tengah perjalanan, sebuah pujian terlontar dari mulut seorang adik kelasku, “ Kak.. Kamu terlihat cantik dengan kebaya itu.. boleh ga aku foto dengan kaka buat kenang-kenangan?”
” Thanks ya de kamu juga cantik… boleh bangetlah dek,” jawabku dengan penuh rasa haru.
Aku segera melangkah dan mencari sebuah kursi kosong untuk aku singgahi. Tak lama kemudian acara wisuda pun segera dimulai dengan pembukaan acara yang sangat sakral dengan adat jawa. Entah apa yang ku rasa hari ini aku sangat bahagia sekali. Tak terasa waktu sangat cemburu dengan kebahagiaanku hari ini sehingga bertemulah dengan penghujung acara yang diakhiri dengan perpisahan. Disudut panggung aku melihat seorang pria yang telah menjadi bagian dari hidupku saat ini, dia tersenyum dan memanggilku dengan nada yang sangat manja,” Rinda.. I am here.” Aku segera menghampirinya. Kami saling berjabat tangan dan saling memberikan ucapan selamat atas kelulusan kami. Tak lama bunda memanggil dari kejauhan menyuruh aku dan Dani untuk berfoto bersama. Dengan jas berwarna hitam Dani terlihat bak seorang pemuda gagah yang tampan. Orang-orang mulai pergi dan meninggalkan tempat duduk mereka, aku dan Dani mengukir sebuah janji yaitu kami berjanji akan bertemu dan berfoto bersama lagi diwisuda selanjutnya(wisuda perguruan tinggi) sebagai sepasang kekasih dengan senang hati aku tersenyum bahagia.
Jakarta, 10 Juli 2012 pukul 06.30 WIB
Disini aku memulai petualanganku dalam mencari perguruan tinggi negeri di Jakarta. SMAN 66 Jakarta adalah tempat dimana aku bertarung dengan soal-soal SMPTN yang menentukan masa depanku. Pagi itu udara sangat bersahabat dengan sang alam. Aku berdiri diatas sebuah balkon sekolah yang tak berpenghuni, khayalanku mulai melayang-layang dilangit ditemani dengan sebuah harapan yang tergantung tinggi diatas kepalaku. Harapanku pagi itu hanya satu yaitu aku dapat diterima masuk di Universitas Negeri ternama di Jakarta.Tiba-tiba suara handphone berdering menggagetkanku dari lamunan yang berlalu lalang dipikiranku. Sebuah pesan masuk yang berisi sebuah pesan penuh arti hinggap dihandphoneku….
To: Rinda
From: Dani
Dear do the best for your test… I believe we can pass it! I love you so much
Sebuah pesan yang menggetarkan semangat dalam dada dan menumbuhkan sebuah energi positif dalam jiwa. Aku segera membalas pesan dari Dani yang sedang mengikuti test SMPTN ditempat yang berbeda.
To: Dani
From: Rinda
Of course we can pass it.. Fight for our test! I love you so much too
Bel tanda masuk ruang kelas sudah berbunyi. Semua peserta test memasuki ruang yang sudah ditentukan oleh panitia. “Saatnya pertarungan dimulai…. Bismillah,” bisikku dalam hati.
Tak terasa sudah tiga bulan lebih aku dan Dani tak pernah saling bertatap wajah dan bercakap-cakap bersama karena jarak dan waktu yang memisahkan kita. Sore itu rindu semakin mendarah daging dalam raga, aku menumpahkan seluruh kerinduanku lewat percakapan aku dan Dani via telepon tak kusadari air mataku jatuh bercucuran membasahi pipi, aku tak bisa membendung perasaan rindu ini. Sampai munculah sebuah kesepakatan yang melegakan hati yaitu Dani mengajakku bertemu untuk pertama kalinya ditempat perantauan kita.
Pagi ini terlihat sangat indah dan menawan, suasana hatiku yang berbunga-bunga tampaknya bersahabat dengan pagi yang cerah. Aku segera bersiap-siap untuk pergi menemui Dani di salah satu mall ternama di Jakarta Selatan. Ini pertama kalinya kami bertemu ditempat perantauan kami. Meskipun Dani tak tahu persis dimana letak Mall yang aku ajukan untuk tempat pertemuan kami. Langkahku semakin melebar setelah menaiki jembatan penyebrangan karena sebuah Mall yang berdesign modern sudah tampak dipelupuk mata. Aku segera menuju kesebuah toko buku yang berada didalam Mall tersebut dan membaca-baca sebuah novel karangan Andrea Hirata menunggu kedatangan sang belahan jiwa yang akan datang. Meski lamaku menunggu hati ini tetap bersabar untuk menunggu kedatangan sosokmu yang ku dambakan. Hingga pukul 09.00 WIB Dani mengabarkan dalam sebuah pesan singkat…
To: Rinda
From: Dani
Rin… coba tengok kebelakang!
Aku segera memalingkan wajahku kearah Jam 12. Seorang lelaki muda dengan kemeja kotak-kotak dan celana chino coklat dengan perawakan tubuh minimalis tersenyum hangat menyapaku. Aku segera membalas senyuman yang dia tawarkan padaku.
“Rinda.. Kau terlihat cantik dengan balutan jilbabmu. Apa kabar? Lama tak jumpa,” seuntai kata yang menusuk sanubari terlontar dari mulut seorang laki-laki yang ku cinta.
“Aku baik Dani.. I miss you so much.. Kamu makin manis aja kaya gula jawa,” Jawabku dengan mata berkaca-kaca.
Danipun tertawa karena celotehan polosku.
“ Mau kemana kita tuan putri?” Tanya Dani dengan sedikit candaan hangat yang memecahkan kerinduan dalam hati.
“Terserah kamu aja Dan.. Tapi aku laper loh dari tadi nungguin kamu hehe.” Jawabku sumringah.
“Gimana kalau kita makan disitu aja?,” sambil menunjuk ke arah restaurant Korea.
Aku segera menganggukan kepala dan memperlihatkan senyuman extra manis untuk Dani.
Kami berdua segera memasuki restaurant Korea tersebut, seorang pelayan menyapa kami dengan bahasa korea. Kami berdua pun tersenyum kepadanya. Tak ambil pusing kami segera duduk di sebuah meja yang memiliki dua pasang bangku.
“Kamu mau pesen apa Rinda?” Tanya Dani menyodorkan buku menu.
“Aku pesen Ramen aja Dan… Udah lama gak pernah makan ramen soalnya di Semarang jarang yang jual hehe.”
“Ok.. Kalo aku pesen paket box ini aja deh.”
Sambil menunggu pesanan makanan datang aku dan Dani bercakap-cakap tentang pengalaman kami selama dikota perantauan.
“Dan ga nyangka kita bisa nge Date lagi dikota orang.. Semoga kita bisa terus sama-sama disini.” Sebuah harapan ku untuk Dani.
Danipun tersenyum dan menjawab,”I’ll be yours forever, I promise.”
“Oh..God it is the sweetest promise that I’ve ever heard from you.” Hatiku tiba-tiba berbicara.
Waktu seolah cemburu dengan kemesraan diantara kita. Tak terasa ini saatnya aku dan Dani untuk mengakhiri pertemuan kita dihari ini.
“Ayo Rinda udah sore kita pulang! Soalnya aku juga belom tau jalannya takut nyasar entar kemaleman.” Ajak Dani.
“ Iya Dan…. Ayo!!”
Kami segera meninggalkan tempat itu dan segera menuju ke tempat parkiran. Tiba-tiba wajah Dani berubah menjadi panik seketika.
“ Kenapa Dan? Ada yang salah?” Tanyaku.
“ Hmmmmhh…. ini Rin karcis parkiran ilang,” jawab Dani sambil membongkar seluruh isi tas.
“Tenang dulu.. Coba kamu inget-inget,” aku mencoba menenangkannya sambil membantu mencari karcis yang ilang.
Tanpa pikir panjang aku dan Dani segera mencari keseluruh sudut parkiran, tetapi kami tidak menemukannya. Kami memutuskan untuk segera melapor ke satpam Mall. Setelah menghadapi beberapa proses yang sangat panjang dan menegangkan akhirnya aku dan Dani dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.
Langit sore mulai tersipu malu bersembunyi dibawah awan hitam, Dani segera mengantarku kerumah dengan motor hitam kesayangannya sejak SMA. Di tengah perjalanan aku merasa kebingungan karena ternyata jalan yang dilalui Dani menuju rumahku tidak sesuai dengan jalur yang biasa aku lewati.
“Loh Dan kenapa ini jalan isinya mobil semua ya? Motornya pada kemana?” tanyaku dengan penuh kebingungan.
“Rin gimana sih kamu nunjukin jalannya… bisa nyasar gini! Ga ada puteran lagi disekitar sini,” kata Dani dengan muka penuh kekhawatiran.
Lampu merah memberhentikan langkah kami untuk menelusuri jalan di kota yang sangat luas ini. Tiba-tiba suara klakson taxi dan teguran supir taxi dibelakang menyadarkan aku dan Dani bahwa kita telah salah mengambil jalur, pantas saja tak ada satu motor pun yang berani melewati jalur ini. Aku tersentak kaget ketika melihat polisi didepan lampu lalu lintas tak jauh dari tempat kami berpijak. Kami berdua panik hampir saja menerima surat tilangan dari si penghuni lalu lintas. Meski sempat terkena omelan dari seorang supir taxi dibelakang kami karena Dani memutuskan untuk berputar arah dan melawan arus lalu lintas. Untung saja tak jauh dari bibir jalan ada sebuah belokan untuk berputar arah. Akhirnya kami berdua sampai rumah dengan selamat meski sempat berhadapan dengan beberapa masalah yang bertubi-tubi. Sore ini adalah perjalanan yang paling melelahkan tapi rasa lelah itu lenyap seketika saat Dani membisikan sebuah kata manis ditelingaku.
“Rin.. I will always love you till the end of my life.” Sambil menatap kedua mataku.
Pagi itu suara jam weaker menganggetkanku dari sebuah mimpi yang panjang. Saat terbangun dari tidur lelapku, aku tersadar bahwa itu hanyalah serpihan dari cerita masa lalu yang aku lewati bersama Dani. Hal konyol, mengharukan, menyedihkan dan membahagiakan ternyata semua lenyap ditelan oleh waktu. Suara samar bunda mulai menggema di telinga,” Rin bangun sayang! Hari ini kan kamu diwisuda cepat mandi dan dandan yang cantik.”
“Oke bunda.. Ini Rinda mau siap-siap kok,” jawabku dari balik pintu kamar.
“Dan hari ini kita wisuda loh… masihkah kau menginggat janji kita 4 tahun lalu?” tangisku dalam hati.
Ujung dari sebuah penantianku akhirnya tiba, hari ini aku diwisuda ya…. aku diwisuda di Universitas Negeri ternama di Jakarta dengan gelar kumlaud sungguh pencampaian yang sangat luar biasa. Bulu kudukku merinding seketika ketika seorang pria hebat dengan serentet gelar yang dapatkan memindahkan tali diatas togaku. Kedua orang tuaku terlihat tersenyum bangga dengan sedikit cucuran air mata haru dari kejauhan.
Aku segera berlari menghampiri kedua orang tuaku dan merangkul mereka dengan dekapan yang sangat erat,” Bunda, ayah ini buat kalian.” Kataku sambil tersenyum haru.
Satu pesan untuk Dani….
“Dan… walaupun kau tak akan pernah kembali disisiku dan berfoto bersamaku hari ini tapi doaku selalu menyertaimu…. semoga kau bahagia disana dengan wanita yang kau harapkan…satu kata yang harus kau tahu sejak kita berdua mengukir sebuah janji hingga detik ini ….. aku mencintaimu Dani”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s